Masa Di Perguruan Tinggi

MASA DI PERGURUAN TINGGI

Setelah lulus SMA Negeri Gorontalo, sebagai salah satu juara saya ditawari beasiswa ke Akademi Pekerjaan Umum dan Tenaga (ADPUT) di Bandung. Selain itu keluarga dan Pemerintah Daerah Bolaang Mongondow menghendaki saya meneruskan pendidikan ke Fakultas Kedokteran UNHAS dengan Beasiswa Pemerintah Daerah.

Tawaran ini menjadi pilihan, dan berangkatlah saya ke Makassar dimana waktu itu kakak sepupu Drs. Abdullah Mokoginta menjadi Staf pada kantor Komando Antar Daerah Indonesia Timur (KOANDAIT) di bawah pimpinan Soeharto yang kemudian menjadi Presiden selama 32 tahun.

Karena tes masuk Fakultas Kedokteran UNHAS telah selesai, maka saya diterima sebagai Mahasiswa Pendengar dengan ketentuan akan diuji setelah tiga bulan kemudian.

Alhamdulillah setelah tiga bulan saya berhasil dicatat sebagai Mahasiswa dengan Nomor Stambuk 520 pada tahun Akademik 1962/1963. Bersama 120 mahasiswa tingkat I lainnya saya mengikuti kuliah dengan bersemangat.

Akhir tahun Akademik kami menghadapi ujian tulis dan praktik yang cukup berat, dengan hasil yang sangat memuaskan karena dari 120 mahasiswa hanya saya dan seorang teman yang berhasil lulus Utama, dan sisanya masih harus mengulang sebulan kemudian.

Tahun akademik 1962/1963 s/d 1964/1065 saya lewati dengan lancar dan sukses menyelesaikan tingkat Bakaloreat (Sarjana Muda). Selama tiga tahun itu saya dari rumah kost di Jl. Onta Makassar sampai ke kampus Fakultas Kedokteran yang berjarak kira-kira 6 km harus berjalan kaki karena tidak punya sepeda.

Tahun akademik 1965/1966 seluruh proses pendidikan terpengaruh oleh Gerakan 30 September (G30S).

Tahun Akademik berubah menjadi tahunan dari Januari s/d Desember dan kembali lagi ke periode September – Agustus pada tahun akademik 1974/1975 dst.

Tahun 1966 perkuliahan praktis tidak berjalan. Pada tingkat IV ini saya tertahan beberapa tahun, sampai berhasil memperoleh gelar Drs.Med. (Dokter Muda) pada tahun akademik 1974/1975.

Selama pendidikan dokter kurikulum tidak mengenal Sistim Kredit Semester (SKS), sehingga tiap tahun bila masih ada mata kuliah yang belum dilulusi maka tahun berikut semua mata kuliah harus diulangi sekalipun pada tahun sebelumnya sudah dilulusi.

Selama masa kritis ini beasiswa saya diberhentikan oleh Bupati Bolaang Mongondow waktu itu Oe.N. Mokoagow, sehingga saya harus mencari uang untuk membiayai pendidikan. Masa kritis ini saya manfaatkan juga menjadi guru tidak tetap pada SMA Negeri 1 Makassar untuk mata ajar Biologi, Ilmu Ukur Ruang, dan Ilmu Pesawat, dan menjadi guru privat les pada putera-putera pejabat di Makassar. Alhamdulillah biaya pendidikan dapat diatasi, apalagi pada waktu itu saya sudah berkeluarga sehingga peran sang Isteri yang juga seorang guru di Sekolah Menengah Atas, sangat menentukan keberhasilan saya menghadapi kemelut biaya sekolah.

Tahun akademik 1975/1976 saya berhenti menjadi guru tidak tetap dan memusatkan perhatian pada praktik dokter muda pada semua Rumah Sakit di Makassar. Akhirnya tahun 1978 berhasil menyelesaikan pendidikan dokter.

Segera setelah itu saya diusul menjadi Pegawai Negeri oleh Kepala Kantor Wilayah Departemen Kesehatan Sulawesi Utara dan Sulawesi Selatan, namun oleh Menteri Kesehatan saya ditetapkan mengisi formasi dokter Puskesmas di Sulawesi Selatan. Pada tanggal 13 November 1978 saya resmi menjadi Kepala Puskesmas Polombangkeng Utara Kabupaten Takalar.

Iklan

One thought on “Masa Di Perguruan Tinggi

  1. Ping-balik: Alhamdulillah | Bacaan Indah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s