Lima Perkataan dan Sepuluh Larangan

LIMA QAULAN.

  1. Qaulal Layyana : Perkataan lemah lembut.
  2. Qaulan Sadiida : Perkataan yang benar.
  3. Qaulan Ma’rufa : Perkataan yang baik.
  4. Qaulan Kariima : Perkataan yang mulia.
  5. Qaulan Maisura : Perkataan yang pantas/patut/layak.

 

SEPULUH LARANGAN.

  1. Jangan Mubazir : Orang Mubazir temannya Syaithan.
  2. Jangan membelenggu tangan, dan jangan pula terlalu mengulurkan : Malas, Kikir dan jangan mengambil hak orang.
  3. Jangan memakan Riba: Kembali lebih.
  4. Jangan membunuh anak : Pakai spiral, membuang bayi, dan membunuh langsung.
  5. Jangan mendekati Zina : Merusak Rumah Tangga dan Keluarga.
  6. Jangan membunuh Jiwa; Membunuh dengan sengaja.
  7. Jangan mendekati harta anak yatim.
  8. Jangan Ikut-ikutan sesuatu yang kamu tidak tahu.
  9. Jangan berjalan congkak dimuka Bumi.
  10. JANGAN MEMPERSEKUTUKAN ALLAH.

 DAN BERSEDIALAH :

  1. Memaafkan manusia. Bukan minta maaf
  2. Membalas kejahatan orang dengan kebailkan.
Iklan

Narkotika Dalam Pandangan Islam

Narkotika Dalam Pandangan Islam

Melihat judul tulisan ini , tidak mengherankan kalau orang banyak secara spontan mengatakan bahwa “NARKOTIKA HARAM”. Namun seorang muslim tidak dibenarkan menganggap HALAL atau HARAM sesuatu tanpa pengetahuan.

Narkotika sebagai bahan/obat seperti morfin, petidin, marihuana, ganja, heroin dan semacamnya sudah banyak dikenal melalui semua media massa. Bahan/obat ini berasal dari jenis tumbuh-tumbuhan, baik akar, batang, daun, bunga dan buahnya.

Selanjutnya dipergunakan orang secara langsung atau diolah terlebih dahulu. Cara menggunakan bahan/obat ini dapat melalui suntikan, diisap, dimakan, diminum, digosokan, dll.

Di Indonesia telah ada Undang-Undang tentang narkotika yang mengatur bagaimana penyediaan, penyimpanan, penggunaan, pengawasan, dan sanksi hukum atas bahan/obat narkotika. Penggunaannya menurut undang-undang terbatas pada penggunaan medis atas indikasi, oleh dan atau di bawah pengawasan dokter. Penyimpangan dari aturan ini, dikenakan sanksi hukum yang buktinya dapat kita ketahui dengan banyaknya penyimpan/pengedar narkotika yang dijebloskan ke dalam penjara bahkan dihukum mati.

Efek bahan/obat ini sebagiannya memacu susunan saraf pusat, sebagiannya menekan, bahkan ada yang mempunyai efek ganda, tergantung pada dosisnya. Karena dipacu atau ditekannya fungsi otak, maka timbullah tanda-tanda bahaya dari penggunaan narkotika antara lain ketagihan, berobahnya akal budi, mabuk, curiga, gelisah, kesadaran menurun, dll. Demikianlah sekelumit tentang  narkotika dilihat dari segi biologis, medis, dan undang-undang yang berlaku.

Selanjutnya kalau kita berbicara tentang pandangan Islam, maka yang dijadikan dasar adalah Al Qur’an dan Hadits Nabi Muhammad Rasulullah SAW. Bila kita telusuri Al Qur’an maka dapat ditemukan keterangan tentang bahan-bahan/zat yang dilarang oleh Allah SWT. untuk dimakan atau dipergunakan oleh ummat Islam yaitu daging babi, darah, bangkai dan sembelihan bukan karena Allah SWT. AQ. 2:173. Semuanya ini berupa hewan (ingat, narkotika dari tumbuh-tumbuhan).

Zat/bahan lain yang dilarang Allah adalah KHAMAR,(AQ. 2 : 219 dan 5 : 90). Allah SWT menjelaskan bahwa khamar mengandung dosa besar, najis dan menggunakannya adalah amal syaitan. Orang-orang beriman diperintah menjauhinya. Jelas, HARAM mendekatinya apalagi memanfaatkannya. Karena itu tidak pula diterangkan Allah bagaimana cara memanfaatkannya, apakah diminum, dimakan, diisap, digosok, atau dengan cara-cara lain.

Sumber khamar tidak dijelaskan Allah SWT apakah dari hewan atau tumbuh-tumbuhan. Al Qur’an ada melarang mendekati suatu pohon tetapi tidak juga menyebutkan nama pohon itu (AQ.2 : 35).

Mustahilkah kalau pohon yang dimaksud antara lain adalah tanaman Ganja, dan Tembakau ?  Allah Maha Mengetahui.

Kita kembali memperhatikan KHAMAR yang oleh sebagian Ulama didefinisikan sebagai “MINUMAN YANG MEMABUKKAN”. Definisi dari Allah SWT sudah dijelaskan di atas: “Zat yang mengandung Dosa besar” (Fi-hima isymun kabi-r).

Kemudian secara terperinci Rasulullah Muhammad SAW. memberi penjelasan tentang ayat Allah SWT dengan hadits-haditsnya. Mengenai sumber khamar dan apa yang disebut khamar, Rasulullah SAW. bersabda :  “AN UMARA QA-LA NAZALA TAHRI-MUL KHAMRI WA HIYA MIN HAMSATIN, MIN AL INABI WAT TAMRI WAL ASALI WAL HINTHATI WASY SYA’I-RI WAL KHAMRU MA- KHAMARAL  AQLA”. (Muttafaqun Alaihi). Artinya: “ Dari Umar ia berkata: Telah turun (ayat) pengharam khamar, dan ia (khamar) dari lima: dari Anggur, dan Kurma, dan Madu, dan Gandum, dan Syair; dan khamar itu apa-apa yang merobah akal.

Jelas bahwa khamar berasal dari:

  1. Madu, (produk hewan)
  2. Anggur, Kurma (buah-buahan jenis tumbuhan)
  3. Gandum, Syair, (makanan pokok jenis tumbuhan)

Apa-apa yang merobah akal, (jenis tumbuhan, hewan, senyawa kimia, dan lain-lain).

Selain itu hadits ini menerangkan pula pengertian KHAMAR menurut Rasulullah Muhammad SAW. yaitu “KHAMAR  ADALAH APA-APA YANG MEROBAH AKAL”.

Merobah akal dalam hal ini tentu dari yang baik menjadi kurang atau tidak baik. Perobahan akal semacam ini dalam ayat Allah SWT. dikatakan MENGANDUNG DOSA BESAR (sebagai akibat dosa besar).

Dalam menggolongkan bahan/obat kedalam khamar Rasulullah SAW. menjelaskan sebagaimana hadits berikut:

AN IBNI UMARA ANNANNABIYA SAW QA-LA : KULLU MUSKIRIN KHAMRUN WA KULLU  MUSKIRIN HARAMUN, HR.Muslim. Artinya: “Dari Ibnu Umar, bahwasanya Nabi SAW. telah bersabda: Tiap-tiap yang memabukkan itu khamar, dan tiap-tiap yang memabukkan itu haram”.

Hadits itu menjelaskan bahwa:

  1. Semua yang menyebabkan pemakainya mabuk adalah khamar (tidak khusus minuman).
  2. Semua yang menyebabkan pemakainya mabuk, hukumnya haram.

Kalau kita kaitkan dengan definisi khamar menurut hadits sebelumnya, maka tanda utama dari mabuknya seseorang adalah “perobahan akal”. Berobahnya akal tidak selamanya diikuti oleh gejala fisik, seperti menurunnya kesadaran, sakit kepala, mual, muntah, dll. Ada orang muntah-muntah tidak mabuk,dan sebaliknya ada orang mabuk tidak muntah.

Dengan penggolongan dan definisi khamar menurut Rasulullah SAW di atas, maka dapat dimengerti bahwa narkotika tergolong khamar.

Jadi karena khamar hukumnya haram, maka NARKOTIKA HUKUMNYA HARAM. Haram dalam hal ini mengandung resiko dunia dan akhirat. Di dunia menderita akibat narkotika di akhirat Jahannam menanti.

Bagaimana dengan narkotika atau khamar yang dijadikan obat ?

Saya tidak dapat menjawab pertanyaan ini selain mengemukakan jawaban Rasulullah SAW. kepada sahabatnya yang bertanya tentang penggunaan khamar sebagai obat, yaitu :

  1. AN UMMI SALAMAH ANINNABIYYA SAW QA-LA : INN ALLAHA LAM YAJ AL SYIFA AKUM QAYMA HARRAMA ALAIKUM. Artinya: Dari Ummu Salamah dari Nabi saw sabdanya: “Sesungguhnya Allah SWT tidak jadikan obat bagi kamu, apa yang IA telah haramkan atas kamu.” HR. Baihaqi.
  2. AN WA ‘ILIL HADRAMI ANNA THA-RIQ BIN SUWAID SA-ALAN NABIYYU SAW. ANIL KHAMRI YASHNA ‘UHA LIDDAWA-‘I FA QA-LA, INNAHA LAISAT BI DAWA-IN WA LA-KINNAHA DA-UN. HR. Muslim, Artinya: “Dari Wa’il al Hadrami, bahwasanya Thariq bin Suwaid bertanya kepada Nabi saw. tentang khamar yang ia jadikan obat. Jawab Nabi : Sesungguhnya khamar bukan obat melainkan penyakit.”
  1. MA ASKARA KASYIRUHU, FAQALI-LUHU HARA-MUN. HR. Ahmad. Artinya: “Apa-apa yang banyaknya memabuk-kan, sedikitnya(pun) haram.

Tiga hadits ini cukup gamlang sehingga tidak perlu dijelaskan lagi.

KESIMPULAN:

  1. Narkotika termasuk golongan khamar.
  2. Narkotika hukumnya haram, sedikit atau banyak.
  3. Khamar sumbernya dari hewan, tumbuhan, senyawa kimia dll.
  4. Khamar mengandung dosa besar, al. Merobah akal budi.
  5. Khamar bukan diminum saja, tetapi dapat juga dimakan, disuntik, diisap, digosokkan, dsb.
  6. Khamar bukan obat tetapi penyakit.

Akhirnya saya mengajak semua orang beriman menjauhi khamar atau narkotika, supaya kamu beruntung.

Wa billahit taufiq wal hudaa.

Jamban Keluarga

jk1JAMBAN KELUARGA SEBAGAI ALAT KEBAHAGIAAN DAN KESEJAHTERAAN

Setiap tahun pemerintah membangun ribuan Jamban Keluarga/WC Umum di kota-kota dan pedesaan melalui jalur Inpres Sarana Kesehatan. Daerah-daerah yang mendapat bagian tentunya yang dianggap rawan, dengan skala prioritas kesehatan yang sudah ada. Upaya ini dimaksudkan sebagai bantuan dan alat perangsang bagi anggota masyarakat dalam usahanya meningkatkan mutu kesehatan.

Dilain pihak, di tengah masyarakat yang kebagian sarana ini kita menemukan Jamban Keluarga/WC yang tidak dimanfaatkan sebagaimana mestinya. Ada closet yang dijadikan tempat mencuci pakaian, ada pula yang dijadikan jembatan kecil di depan rumah dsb. Disamping itu ada yang terpasang baik di dalam bilik tetapi tidak pernah digunakan entah apa sebabnya.

Sementara itu masih banyak orang senang membuang kotorannya di semak-semak, di bawah pohon, di tepi sungai dan selokan, atau menanamnya di tengah kebun. Sebagian pengamat sependapat bahwa salah satu sebab dari semuanya itu, adalah ketidak tahuan masyarakat akan fungsi Jamban Keluarga/WC itu sendiri. Kalau kita kembali sejenak pada judul uraian ini, maka ketidak tahuan itu juga masih terdapat pada golongan masyarakat yang menempati rumah-rumah mewah.

Supaya Jamban Keluarga/WC memenuhi syarat sebagai alat kesejahteraan dan kebahagiaan dunia-akhirat, sekurang-kurangnya perlu dikemukakan tiga syarat pembuatan dan pemanfaatannya sebagai berikut:

1. Syarat-syarat Kesehatan :

  • Bak penampungan berjarak kurang lebih 10 meter dari sumur atau sumber air bersih. (Jarak ini tergantung pada jenis dan keadaan tanah).
  • Bak penampungan tertutup baik sehingga tidak berbau dan tidak meluap ke sekitar dimusim hujan.
  • Tempat duduk (closet) sebaiknya type leher Angsa.
  • Selesai buang air, harus disiram sehingga kotoran semua masuk ke dalam bak penampungan.

2. Syarat Tehnik :

Untuk memenuhi syarat kesehatan, perlu didukung oleh tehnik pembuatan yang baik. Bak penampungan harus kuat, agar tidak mudah runtuh atau retak. Bentuk dan sistim yang dianjurkan adalah Septic Tank; yaitu sistim dimana antara bak pengendapan dan peresapan dipasang alat saringan. Lebih dari itu dapat dikembangkan oleh ahli tehnik.

Sekiranya dua syarat di atas sudah dipenuhi, kemudian Jamban Keluarga/WC dimanfaatkan seperlunya, maka kebahagiaan dan kesejahteraan dunia sudah dapat didekati. Siapa yang tidak berbahagia secara lahir, kalau lingkungannya bebas dari polusi, bau dan pengotoran yang disebabkan oleh kotoran manusia ?  Tetapi tujuan akhir kita adalah Bahagia dan Sejahtera Dunia dan Akhirat. Untuk itu dibutuhkan syarat ketiga.

3. Syarat dari Allah SWT dan Rasul-Nya Muhammad SAW.

     3.1. Ketentuan untuk bangunan Jamban Keluarga/WC.

  • Penempatannya mempunyai jarak atau batas dengan sumur atau bak air yang dipakai untuk mandi dan berwudlu. Hal ini disyaratkan Allah dalam surat Al Maa-idah ayat  6.

. . . JAA-A AHADUM MINKUM MINAL GHAAITH. . . FALAM TAJIDUU MAA-AN . . . . (Kembali dari tempat buang air (jamban keluarga). . . lalu tidak memperoleh air. . . . ). Ayat ini secara keseluruhan tegas menerangkan cara berwudlu dan tayammum, namun potongannya di atas menggambarkan adanya jarak antara Jamban Keluarga/WC dengan tempat air untuk mandi dan wudlu.

Jamban Keluarga/WC perlu ada bilik atau dinding. Hadits Nabi SAW. riwayat Abu Dawud dari Aisyah r.a. “MAN ATALGHAAITH, FALYASTATIR” (Barangsiapa datang ke tempat buang air besar, hendaklah ia berlindung). Bulughul Maram.

  • Pemasangan tempat duduk (closet) hendaknya tidak ke arah kiblat atau membelakanginya, mengingat hadits Nabi SAW. yang melarang ummatnya buang air besar atau kecil menghadap kiblat atau membelakanginya.

“WA LAA TASTAQBILUL QIBLATA, WA LAA TASTADBIRUUHA BI GHAA-ITHIN AW BAWLIN WA LAAKINSYARRIQUU AW GHARRIBUU”   (“dan jangan-lah kamu menghadap kiblat dan jangan membelakanginya waktu buang air besar atau kecil, tetapi menghadaplah ke kanan atau ke kiri”). Hadits riwayat tujuh ahli dari Abi Ayyub al-Anshari, Bulughul Maram.

3.2. Ketentuan Tentang Cara Memanfaatkan Jamban Keluarga/WC.

  1. Bila memasuki pintu Jamban Keluarga/WC mendahulukan kaki KIRI sambil membaca do’a ALLAHUMMA INNI A’UZUBIKA MINAL KHUBUSYI WAL KHABAA-ISY. (Ya Allah ! sesungguhnya aku berlindung pada-Mu daripada kejelekan, dan barang-barang yang jelek).
  2. Duduk di dalam bilik Jamban Keluarga/WC hendaknya tidak menghadap atau membelakangi kiblat.
  3. Keluar dari bilik Jamban Keluarga mendahulukan kaki KANAN sambil membaca “GHUFRAANAKA” (Ampunilah aku).

Jelas bahwa dengan membuat dan memanfaatkan Jamban Keluarga/WC, kita dapat melaksanakan SUNNAH dan yakinlah bahwa hasilnya akan diterima di DUNIA dan lebih-lebih di AKHIRAT.

Selain itu Jamban Keluarga/WC dapat mencegah manusia melanggar larangan Agama yang telah diatur oleh Allah dan Rasul-Nya sehubungan dengan membuang air besar atau kecil yaitu: 

Hadits dari Mu’adz : ITTAQUL MALAA INASYSYALAASYATA ALBARAA ZAFIL  MAWAARIDI, WA QAARIATITH THARIIQI WAZH ZHILLI. (Jauhilah tempat penyebab laknat yang tiga; berak di tempat-tempat air, dan di jalanan, dan di tempat bernaung). Dan dari Ibnu Abbas : AW NAQ ‘IMAA-I (..atau tempat berkumpul air). Dan dari  Ibnu Umar : .. WA DHAFFATIN NAHRIL JAARIY.. (dan di tepi sungai mengalir).

Hadits-hadits di atas ini menunjukkan tempat-tempat yang dilarang  untuk membuang air besar (defikasi) yaitu :

  1. Tempat-tempat air atau tempat berkumpul air, seperti Dam, waduk, bak air, empang, telaga, kolam renang, dsb.
  2. Di jalanan manusia : Lorong / gang ataupun jalan raya.
  3. Di tempat bernaung: Halte, di bawah pohon, dsb.
  4. Di tepi sungai yang mengalir, termasuk selokan dalam kota, saluran irigasi dsb.

Bila tiap rumah memiliki Jamban Keluarga/WC maka tidak ada lagi manusia yang membuang kotorannya di tempat-tempat terlarang tersebut.

Akhirnya jika tuntunan diikuti dan larangan dijauhi maka lingkungan hidup bersih, rantai penularan penyakit putus, cinta kasih Allah swt. diperoleh. INNALLAHA YUHIBBUT TAWABIINA WA YUHIBBUL  MUTATHTHAAHIRIIN. “Sesungguhnya Allah mencintai orang yang bertobat dan mencintai orang yang bersih.”

Melaksanakan sunnah adalah amal shaleh, amal shaleh hanya dikerjakan orang beriman, karena itu bagi orang yang beriman dan beramal shaleh pahalanya mengalir tiada putus.

Orang beriman dan beramal shaleh tempatnya di akhirat adalah syurga. Inilah kebahagiaan dan kesejahteraan abadi.

Kesimpulan:

  1. Jamban Keluarga/WC mencegah pengotoran lingkungan hidup.
  2. Jamban Keluarga/WC melestarikan kebersihan.
  3. Jamban Keluarga/WC mencegah penularan beberapa penyakit.
  4. Jamban Keluarga/WC mencegah beberapa perbuatan laknat.
  5. Jamban Keluarga/WC adalah salah satu alat untuk beribadah
  6. Jamban Keluarga/WC adalah alat kebahagiaan dan kesejahteraan Dunia dan Akhirat.

Wa billahit taufiq wal hudaa.

Wanita Berkabung

ﻋـﻦﺃﻡّﻋـﻄﻳﺔ ﺮﺿﻲ ﺍﻟﻟّﻪ ﻋـﻧﻬﺎ ﺃﻥ ﺮﺳﻭْﻝ ﺍﻟﻟّﻪ ﺻﻟّﻰ ﺍﻟﻟّﻪ ﻋـﻟـﻳْﻪ ﻭﺳﻟّـﻡ ﻗﺎﻝ: ﻻﺗﺣﺩ ﺍﻣْﺭﺃﺓ ﻋـﻟﻰ ﻣﻳﺕ ﻓﻭﻖ ﺛﻼﺙ ﺇﻻﻋـﻟﻰ ﻭﺝ ﺃﺭْْﺑﻌﺔ ﺍﺷْﻬـﺭﻭﻋـﺷْـﺭﺍ ﻭﻻ ﺗﻟْﺑﺱ ﺛـﻭﺑﺎﻣﺻﺑﻭْﻏﺎﺇﻻ ﺛﻭﺏﻋﺻﺏ ﻭﻻﺗﻛْـﺗﺣﻝ ﻭﻻ ﺗﻣﺱ ﻃﻳْﺑﺎﺇﻻﺇﺫﺍ ﻃﻬـﺭﺕْ ﻧﺑْﺫﺓ ﻣﻥْ ﻗﺳْﻄ ﺃﻭﺃﻅْﻓﺎﺭ ﴿ﻣﺗﻔﻕﻋﻟﻳﻪ(ﻭﻫـﺫﺍ ﻟﻔْﻆ ﻣﺳْﻟــﻡ ﻭﻻﺑﻲ ﺩﺍﻭﺩ ﻭﺍﻟـﻧّﺳﺎﺀﻲ ﻣـﻥ ﺍﻟـﺯّﻳﺎﺩﺓ ﻭﻻﺗﺧْﺗﺿﺏ ﻭﻟﻟﻧﺳﺎﺀﻱ ﻭﻻ ﺗـﻣْـﺗـﺷﻄ۰

 “Dari Ummu Athiyyah r.a. Rasulullah saw berabda: “Seorang wanita tidak boleh berkabung atas mayat lebih dari tiga hari, kecuali atas suaminya, yaitu selama empat bulan sepuluh hari. Ia tidak boleh mengenakan pakaian warna-warni kecuali kain ‘ashb (bercorak). Ia tidak boleh memakai celak dan menyentuh wangi-wangian, kecuali jika ia sudah suci, dia boleh menyentuh sedikit seukuran kuku. (Muttafaq Alaihi). Ini adalah lafazh Muslim.

Terdapat tambahan pada riwayat Abu Daud dan An Nasa’i. “dan ia tidak boleh memakai inai.” Sedangkan tambahan pada riwayat an Nasa’I : “dan ia tidak boleh menyisir rambut.”

WANITA YANG SEDANG BERKABUNG ATAS KEMATIAN SUAMINYA

ﻋـﻥ ﺃﻡ ﺳـﻟـﻣﺔ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻟـﻪ ﻋـﻧﻬﺎ ﻗﺎﻟـﺕ׃ ﺟﻌـﻟـﺕ ﻋـﻟﻰﻋـﻳـﻧﻲ ﺻﺑـﺭﺍ

ﺑﻌـﺩ ﺃﻥ ﺗﻭﻓﻲ ﺃﺑـﻭﺳـﻟـﻣﺔ ﻓـﻗﺎﻝ ﺭﺳـﻭﻝ ﺍﻟـﻟـﻪ ﺻﻟﻰ ﺍﻟـﻟـﻪ ﻋـﻟـﻳﻪ ﻭﺳﻟـﻡ

ﺇﻧﻪ ﻳـﺷ۔ﺏ ﺍﻟﻭﺟﻪ ﻓﻼ ﺗﺟﻌ۔ﻟ۔ﻳﻪ ﺇﻻ ﺑﺎﻟﻟ۔ﻳﻝ ﻭﺍﻧﺯﻋ۔ﻳﻪ

ﺑﺎﻟﻧﻬﺎﺭ ﻭﻻ ﺗ۔ﻣﺗ۔ﺷﻃﻲ ﺑﺎﻟﻃﻳ۔ﺏ ﻭﻻ ﺑﺎﻟﺣﻧﺎﺀ ﻓ۔ﺈﻧﻪ

ﺧﺿﺎﺏ ﻗ۔ﻟﺕ׃ ﺑﺄﻱ ﺷﻲﺀ ﺃﻣ۔ﺗ۔ﺷﻃ؟ ﻗﺎﻝ׃ ﺑﺎﻟ۔ﺳﺩﺭ٠

ﺭﻭﺍﻩ ﺃﺑ۔ﻭﺩﺍﻭﺩ ﻭﺍﻟﻧﺳﺎﺀﻲ ﻭﺇﺳ۔ﻧﺎﺩﻩ ﺣﺳﻥ﴾ )

 Dari Ummi Salamah r.a. Ia berkata: Aku memakai Jadam pada mataku setelah Abu Salamah meninggal. Lalu Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya jadam itu mem-percantik wajah. Oleh karena itu, janganlah kamu memakainya, kecuali pada malam hari dan hapuslah pada siang hari. Janganlah kamu menyisir rambut dengan wangi-wangi-an dan inai, karena sesungguhnya inai itu adalah pacar rambut”. Ummi Salamah bertanya, Dengan apa aku menyisir? Nabi bersabda, “Dengan daun bidara.”

              ﻋ۔ﻥﻋ۔ﺎءﺸ۔ﺔ ﺭﺿﻲ ﺍﻟ۔ﻟﱢ۔ﻪۥﻋ۔۔ﻧْﻬﺎ ﺃﻥ ﺍﻣْ۔ﺭﺃﺓ ﻗ۔ﺎﻟ۔ﺕ: ﻳﺎ ﺭﺳ۔ﻭْﻝ ﺍﻟ۔ﻟّـﻪ ﺇﻥ ﺍﺑْـﻧـﺗﻲْ ﻣﺎﺕ ﻋـﻧﻬﺎ ﺯﻭﺟﻬﺎ ﻭﻗـﺩ ﺍﺷْـﺗـﻛ۔ﺕ ﻋـﻳْـﻧﻬﺎ ﺃﻓ۔ـﻧ۔ﻛ۔ْﺣ۔ﻟ۔ﻬﺎ ؟ ﻗ۔ﺎﻝ “ﻻ” ﴿ﻣـﺗـﻓﻕﻋـﻟﻳﻪ

Dari Aisyah r.a.

“Seorang perempuan bertanya, Wahai Rasulullah, puteriku telah ditinggal mati oleh suaminya, dan ia mengeluhkan matanya. Apakah aku boleh memakaikannya celak? ”Beliau bersabda,“Tidak” (Muttafaq ‘alaih)

 

Al Qur’an : Surat Al Baqarah ayat 234.

ﻭﺍﻟـﺫﻳـﻥ ﻳـﺗـﻭﻓـﻭﻥ ﻣﻧﻜـﻡ ﻭﻳـﺫﺭﻭﻥ ﺍﺯﻭﺍﺟﺎ ﻳـﺗﺭﺑـﺻﻥ ﺑﺄﻧﻓﺳﻬـﻥ ﺍﺭﺑﻌﺔ ﺍﺷﻬـﺭﻭﻋـﺷﺭﺍ

ﻓﺈﺫﺍ ﺑﻟﻐـﻥ ﺍﺠﻝﻫـﻥ ﻓﻼﺠﻧﺎﺡﻋـﻟـﻳﻛـﻡ ﻓـﻳﻣﺎ

ﻓﻌـﻟـﻥ ﻓﻲ ﺍﻧـﻓـﺳﻬـﻥ ﺑﺎﻟـﻣﻌـﺭﻭﻑ ﻭﺍﻟﻟـﻪ ﺑﻣﺎ ﺗﻌـﻣـﻟـﻭﻥ ﺧـﺑـﻳـﺭ

“Dan orang-orang yang meninggal dunia diantaramu dengan meninggalkan isteri-isteri hendaklah isteri-isteri itu ber’iddah empat bulan sepuluh hari. Apabila ‘iddahnya telah habis, maka tiada dosa bagimu membiarkan mereka berbuat terhadap dirinya menurut yang patut. Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.”

Puasa Arafah

ﻋـﻥﺃﺑﻲﻗـﺗﺎﺩﺓﺍﻷﻧﺻﺎﺭﻱ ﺭﺿﻲﺍﻟﻟﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰﻋ۔ﻧﻪ ﺍﻥ ﺭﺳﻭﻝ ﺍﻟﻟﻪ ﺻﻟﻰﺍﻟﻟﻪ ﻋ۔ﻟ۔ﻳ۔ﻪ ﻭﺳ۔ﻟ۔ﻡ ﺳﺋﻝﻋ۔ﻥﺻﻭﻡ ﻳﻭﻡﻋ۔ﺭﻓﺔ ﻓ۔ﻗﺎﻝ׃ ﻳ۔ﻛ۔ﻓ۔ﺭﺍﻟ۔ﺳ۔ﻧﺔ ﺍﻟﻣﺎﺿﻳﺔ ﻭﺍﻟ۔ﺑﺎﻗ۔ﻳﺔ ” ﺭﻭﺍ ﻩ ﻣ۔ﺳ۔ﻟ۔ﻡ

Dari Abi Qatadah al Anshari r.a. Rasulullah saw ditanya tentang puasa hari Arafah. Beliau bersabda, “Puasa Arafah itu dapat menghapus dosa satu tahun yang telah lewat dan yang akan datang. (H. R. Muslim)

Bacaan dalam Shalat Jenazah

Dalam keadaan berwudlu.

Imam berdiri diarah kepala jenazah laki-laki, dan di arah perut jenazah perempuan.

Berniat shalat jenazah karena Allah. Lalu

TAKBIR I

 MEMBACA SURAT AL FATIHAH

DAN

MEMBACA SHALAWAT

“Allahumma shalli ‘ala Muhammad, wa ‘ala ali Muhammad.

Kama shallaita ‘ala Ibra-hi-m, wa ‘ala ali Ibra-hi-m.

Wa ba-rik ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad,

Kama ba-rakta ‘ala Ibra-hi-m, wa ‘ala ali Ibra-hi-m,

Fil ‘alamina Innaka Hamidum majid.”

 

TAKBIR II

BERDO’A:

“Allahummaghfir lahu warhamhu, wa ‘afihi wa’fuanhu, wa akrim nuzulahu, wa wassi’ mad khalahu, wagh silhu bil ma’I wats tsalji walbarad.

Wanaqqihi minal khathayaya kama yunaqqats tsaubul abyadhu minad danas.

Wa abdilhu da-ran khairan min da-rihi, wa ahlan khairan min ahlihi.

Wa ad khilhul jannata, waqihi fitnatal qabri, wa adza-ban na-r.”

 

TAKBIR III

BERDO’A:

“Allahummaghfir li hayyina wa mayyitina, wasya-hidina, wa gha-ibina, wa shagi-rina, wakabi-rina wa dzakarina, wa untsa-na.

Allahumma man ahyaitahu minna fa ahyihi ‘alal Islam,

wa man tawaffaitahu minna fatawaffahu ‘alal Iman.

Allahumma la tahrimna ajrahu wa la tudhillana ba’dahu.”

 

TAKBIR   IV

MENGUCAPKAN SALAM KE KANAN DAN KE KIRI

 

ASSALAMU ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH.

selesai !!!