Jamban Keluarga

jk1JAMBAN KELUARGA SEBAGAI ALAT KEBAHAGIAAN DAN KESEJAHTERAAN

Setiap tahun pemerintah membangun ribuan Jamban Keluarga/WC Umum di kota-kota dan pedesaan melalui jalur Inpres Sarana Kesehatan. Daerah-daerah yang mendapat bagian tentunya yang dianggap rawan, dengan skala prioritas kesehatan yang sudah ada. Upaya ini dimaksudkan sebagai bantuan dan alat perangsang bagi anggota masyarakat dalam usahanya meningkatkan mutu kesehatan.

Dilain pihak, di tengah masyarakat yang kebagian sarana ini kita menemukan Jamban Keluarga/WC yang tidak dimanfaatkan sebagaimana mestinya. Ada closet yang dijadikan tempat mencuci pakaian, ada pula yang dijadikan jembatan kecil di depan rumah dsb. Disamping itu ada yang terpasang baik di dalam bilik tetapi tidak pernah digunakan entah apa sebabnya.

Sementara itu masih banyak orang senang membuang kotorannya di semak-semak, di bawah pohon, di tepi sungai dan selokan, atau menanamnya di tengah kebun. Sebagian pengamat sependapat bahwa salah satu sebab dari semuanya itu, adalah ketidak tahuan masyarakat akan fungsi Jamban Keluarga/WC itu sendiri. Kalau kita kembali sejenak pada judul uraian ini, maka ketidak tahuan itu juga masih terdapat pada golongan masyarakat yang menempati rumah-rumah mewah.

Supaya Jamban Keluarga/WC memenuhi syarat sebagai alat kesejahteraan dan kebahagiaan dunia-akhirat, sekurang-kurangnya perlu dikemukakan tiga syarat pembuatan dan pemanfaatannya sebagai berikut:

1. Syarat-syarat Kesehatan :

  • Bak penampungan berjarak kurang lebih 10 meter dari sumur atau sumber air bersih. (Jarak ini tergantung pada jenis dan keadaan tanah).
  • Bak penampungan tertutup baik sehingga tidak berbau dan tidak meluap ke sekitar dimusim hujan.
  • Tempat duduk (closet) sebaiknya type leher Angsa.
  • Selesai buang air, harus disiram sehingga kotoran semua masuk ke dalam bak penampungan.

2. Syarat Tehnik :

Untuk memenuhi syarat kesehatan, perlu didukung oleh tehnik pembuatan yang baik. Bak penampungan harus kuat, agar tidak mudah runtuh atau retak. Bentuk dan sistim yang dianjurkan adalah Septic Tank; yaitu sistim dimana antara bak pengendapan dan peresapan dipasang alat saringan. Lebih dari itu dapat dikembangkan oleh ahli tehnik.

Sekiranya dua syarat di atas sudah dipenuhi, kemudian Jamban Keluarga/WC dimanfaatkan seperlunya, maka kebahagiaan dan kesejahteraan dunia sudah dapat didekati. Siapa yang tidak berbahagia secara lahir, kalau lingkungannya bebas dari polusi, bau dan pengotoran yang disebabkan oleh kotoran manusia ?  Tetapi tujuan akhir kita adalah Bahagia dan Sejahtera Dunia dan Akhirat. Untuk itu dibutuhkan syarat ketiga.

3. Syarat dari Allah SWT dan Rasul-Nya Muhammad SAW.

     3.1. Ketentuan untuk bangunan Jamban Keluarga/WC.

  • Penempatannya mempunyai jarak atau batas dengan sumur atau bak air yang dipakai untuk mandi dan berwudlu. Hal ini disyaratkan Allah dalam surat Al Maa-idah ayat  6.

. . . JAA-A AHADUM MINKUM MINAL GHAAITH. . . FALAM TAJIDUU MAA-AN . . . . (Kembali dari tempat buang air (jamban keluarga). . . lalu tidak memperoleh air. . . . ). Ayat ini secara keseluruhan tegas menerangkan cara berwudlu dan tayammum, namun potongannya di atas menggambarkan adanya jarak antara Jamban Keluarga/WC dengan tempat air untuk mandi dan wudlu.

Jamban Keluarga/WC perlu ada bilik atau dinding. Hadits Nabi SAW. riwayat Abu Dawud dari Aisyah r.a. “MAN ATALGHAAITH, FALYASTATIR” (Barangsiapa datang ke tempat buang air besar, hendaklah ia berlindung). Bulughul Maram.

  • Pemasangan tempat duduk (closet) hendaknya tidak ke arah kiblat atau membelakanginya, mengingat hadits Nabi SAW. yang melarang ummatnya buang air besar atau kecil menghadap kiblat atau membelakanginya.

“WA LAA TASTAQBILUL QIBLATA, WA LAA TASTADBIRUUHA BI GHAA-ITHIN AW BAWLIN WA LAAKINSYARRIQUU AW GHARRIBUU”   (“dan jangan-lah kamu menghadap kiblat dan jangan membelakanginya waktu buang air besar atau kecil, tetapi menghadaplah ke kanan atau ke kiri”). Hadits riwayat tujuh ahli dari Abi Ayyub al-Anshari, Bulughul Maram.

3.2. Ketentuan Tentang Cara Memanfaatkan Jamban Keluarga/WC.

  1. Bila memasuki pintu Jamban Keluarga/WC mendahulukan kaki KIRI sambil membaca do’a ALLAHUMMA INNI A’UZUBIKA MINAL KHUBUSYI WAL KHABAA-ISY. (Ya Allah ! sesungguhnya aku berlindung pada-Mu daripada kejelekan, dan barang-barang yang jelek).
  2. Duduk di dalam bilik Jamban Keluarga/WC hendaknya tidak menghadap atau membelakangi kiblat.
  3. Keluar dari bilik Jamban Keluarga mendahulukan kaki KANAN sambil membaca “GHUFRAANAKA” (Ampunilah aku).

Jelas bahwa dengan membuat dan memanfaatkan Jamban Keluarga/WC, kita dapat melaksanakan SUNNAH dan yakinlah bahwa hasilnya akan diterima di DUNIA dan lebih-lebih di AKHIRAT.

Selain itu Jamban Keluarga/WC dapat mencegah manusia melanggar larangan Agama yang telah diatur oleh Allah dan Rasul-Nya sehubungan dengan membuang air besar atau kecil yaitu: 

Hadits dari Mu’adz : ITTAQUL MALAA INASYSYALAASYATA ALBARAA ZAFIL  MAWAARIDI, WA QAARIATITH THARIIQI WAZH ZHILLI. (Jauhilah tempat penyebab laknat yang tiga; berak di tempat-tempat air, dan di jalanan, dan di tempat bernaung). Dan dari Ibnu Abbas : AW NAQ ‘IMAA-I (..atau tempat berkumpul air). Dan dari  Ibnu Umar : .. WA DHAFFATIN NAHRIL JAARIY.. (dan di tepi sungai mengalir).

Hadits-hadits di atas ini menunjukkan tempat-tempat yang dilarang  untuk membuang air besar (defikasi) yaitu :

  1. Tempat-tempat air atau tempat berkumpul air, seperti Dam, waduk, bak air, empang, telaga, kolam renang, dsb.
  2. Di jalanan manusia : Lorong / gang ataupun jalan raya.
  3. Di tempat bernaung: Halte, di bawah pohon, dsb.
  4. Di tepi sungai yang mengalir, termasuk selokan dalam kota, saluran irigasi dsb.

Bila tiap rumah memiliki Jamban Keluarga/WC maka tidak ada lagi manusia yang membuang kotorannya di tempat-tempat terlarang tersebut.

Akhirnya jika tuntunan diikuti dan larangan dijauhi maka lingkungan hidup bersih, rantai penularan penyakit putus, cinta kasih Allah swt. diperoleh. INNALLAHA YUHIBBUT TAWABIINA WA YUHIBBUL  MUTATHTHAAHIRIIN. “Sesungguhnya Allah mencintai orang yang bertobat dan mencintai orang yang bersih.”

Melaksanakan sunnah adalah amal shaleh, amal shaleh hanya dikerjakan orang beriman, karena itu bagi orang yang beriman dan beramal shaleh pahalanya mengalir tiada putus.

Orang beriman dan beramal shaleh tempatnya di akhirat adalah syurga. Inilah kebahagiaan dan kesejahteraan abadi.

Kesimpulan:

  1. Jamban Keluarga/WC mencegah pengotoran lingkungan hidup.
  2. Jamban Keluarga/WC melestarikan kebersihan.
  3. Jamban Keluarga/WC mencegah penularan beberapa penyakit.
  4. Jamban Keluarga/WC mencegah beberapa perbuatan laknat.
  5. Jamban Keluarga/WC adalah salah satu alat untuk beribadah
  6. Jamban Keluarga/WC adalah alat kebahagiaan dan kesejahteraan Dunia dan Akhirat.

Wa billahit taufiq wal hudaa.

Iklan