Pulang Kampung

PULANG KAMPUNG

Pada akhir tahun 2010 terbetik hati untuk pulang kampung dan Alhamdulillah mendapat persetujuan sang Isteri tercinta Dra.Hj. Aisyah Daeng So’na. Koordinasi dengan anak-anak, adik, kemanakan dan cucu-cucu segera dilakukan dan mendapat sambutan yang baik.

Kemudian dibangunlah pondok kecil di Desa Bilalang 1 Kecamatan Kotamobagu Utara Kota Kotamobagu, Sulawesi Utara, yang diberi nama “PONDOK ASRI” (Pondok Aisyah Subari).

Mulai tanggal 5 Februari 2011, kami meninggalkan Makassar dan selanjutnya berdomisili di Kotamobagu.

Di Kampung melanjutkan kegiatan sebagai Dosen pada AKBID Bunda Kotamobagu, AKPER Totabuan Kotamobagu dan berupaya meningkatkan pengamalan Ajaran Agama Islam sebagai Mubaligh, serta membina Kajian Al Qur’an.

Insya Allah semua kemampuan fisik dan psikologis yang masih dimiliki, dipusatkan pada berbagai bentuk pengabdian kepada Allah SWT, termasuk memotivasi keluarga untuk membangun Masjid “Amanah” di Bilalang 1 Kotamobagu.  

Masjid ini mulai dimanfaatkan untuk Shalat Jumu’ah pada tanggal 22 Jumadil Akhir 1434 H / 3 Mei 2013 M.

Iklan

Sebagai Mubalig atau Da’i

SEBAGAI MUBALIG ATAU DA’I

Kegiatan ini dimulai dengan mengikuti Kursus Da’wah Mahasiswa Islam Universitas Hasanuddin tahun 1965.

Pada Kursus ini dibimbing oleh Dosen-dosen Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Alauddin Makassar dan ulama-ulama besar di Makassar.

Tahun 1965 ini saya mulai berkhotbah di masjid-masjid, sambil memper-dalam agama dengan mengikuti kajian-kajian dan dialog-dialog Tafsir Al Qur’an dan Al Hadits bersama Ulama-ulama kharismatik di Sulawesi Selatan atau yang datang dari Jawa, Sumatera dan lain-lain.

Ulama-ulama itu antara lain : Prof. Dr. Qurais Shihab, Dr. S. Madjidi, KH. Fathul Muin Dg Magading, KH. Abd. Djabbar Asyiri, KH.Bakri Wahid, KH. Syamsyu Marlin, KH. Djamaluddin Amin, KH. Sanusi Ma’gu’, Djama’in, Samir Imam Batua, para Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. Qadir Gassing (Rektor IAIN), Prof. Dr. Muhyidin Zain, KH. Ahmad Muhammad, KH. Sanusi Baco LC, Prof. Dr. Hafid Al Hafidi dan banyak lagi yang lain.

Selain berkhotbah di masjid-majid di Kota Makassar dan Kabupaten2 se Sulawesi Selatan, juga mengisi ceramah-ceramah di kantor-kantor Pemerintah, Swasta, Perguruan Tinggi, RRI, TVRI, ditengah masyarakat desa, serta membawakan materi pada Seminar-seminar Keagamaan yang diadakan oleh komunitas Mahasiswa dan Organisasi Kemasyarakatan.

  1. Sebagai Mubalig, telah menyusun tulisan-tulisan berupa transkrip seperti :

1). Jamban Keluarga

2). Cara Berwudu

3). Cara Mandi dan Tayamum

4). Masbuq dalam Shalat Jamaah

5). Shalat Lail

6). Ukuran Panjangnya Shalat

7). Waktu-waktu Shalat

8). Shalat Dua Hari Raya.

9). Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad Saw.

10). Hewan Sembelihan Dalam Agama Islam

11). Puasa Karena Membunuh tidak sengaja.

12). Islam dan Kesehatan

13). Pandangan Islam terhadap Immunisasi.

14). Narkoba dalam Pandangan Islam

15). Hikmat Allah.

16). Cara meningkatkan Iman.

Sampai pulang kampung dan berdomisili di Desa Bilalang 1 Kecamatan Kotamobagu Utara kegiatan ini berlanjut termasuk Kajian Al Qur’an yang sudah dibina sejak tahun 1972 di kediaman kami di Makassar.

Di Desa Bilalang 1 berusaha memotori pembangunan Masjid Amanah yang dijadikan pusat Dakwah.

Insya Allah fungsi Da’I ini dapat dijalankan sampai Allah SWT menghentikannya.

Kegiatan Dalam Organisasi Kemasyarakatan

KEGIATAN DALAM ORGANISASI KEMASYARAKATAN

Organisasi Kemasyarakatan yang saya masuki adalah Persyarikatan Muhammadiyah, yang didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan pada tanggal 8 Dzulhyijjah 1330 H bertepatan tahun 1912 M di Yogyakarta.

Tujuan organisasi ini adalah : Menjunjung Tinggi Agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah Sahih.

Organisasi ini telah memiliki Ranting dan Cabang diseluruh pelosok Tanah Air, bahkan di Luar Negeri seperti Singapura, Malaysia, Mesir, Jepang, Thailand, negara-negara Eropa, Amerika, Asia dan Australia.

Pimpinannya dipilih dalam Musyawarah pada tiap tingkat (Ranting sampai Pusat) dan menjalankan tugas Pimpinan secara kolegial, selama satu periode lima tahunan.

Muhammadiyah adalah gerakan Islam yang sekarang ini telah meliputi Da’wah Islamiyah, Pendidikan, Sosial, Kesehatan, Ekonomi, Wakaf dan Kehartabendaan, Ketarjihan dan usaha lain dibidang kemasyarakatan. Semua kegiatan atau gerakan diatur dalam Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga, dan Qaidah-qaidah yang berlaku dalam Persyarikatan.

Organisasi ini di Indonesia memiliki Ribuan Masjid dan Mushalla, Ribuan unit Pendidikan Pra Sekolah, Ribuan unit Pendidikan Dasar dan Menengah, Ribuan Panti Asuhan, Ratusan Perguruan Tinggi, Ratusan Sarana Pelayanan Kesehatan, dan Jutaan Hektar Tanah, yang merupakan harta kekayaan yang tidak dimiliki oleh organisasi kemasyarakatan apapun di Dunia ini.

Saya resmi menjadi Anggota Persyarikatan tahun 1968 dengan Kartu Tanda Anggota Muhammadiyah No. 474.604, setelah kurang lebih satu tahun mengikuti pengajian Pimpinan.

Sejak menjadi Anggota, langsung menjadi anggota Pimpinan Ranting Muhammadiyah ONTAMAS cabang Mamajang, daerah Kota Makassar.

Pada periode-periode selanjutnya sampai periode 2005 – 2010 saya memegang jabatan-jabatan berikut :

  • Anggota Muhammadiyah Tahun 1968, KTAM. 474.604.
  • Pimpinan Ranting Muhammadiyah ONTAMAS Makassar Th. 1968 – 1974.
  • Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Mamajang Makassar Th. 1974 – 1985.
  • Anggota Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Makassar Th. 1981 – 1985.
  • Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Takalar Th. 1985 – 1990.
  • Ketua Majelis Pembina Kesehatan PWM Sulsel 2 periode Th. 1990 – 2000.
  • Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan Th. 2000 – 2005.
  • Anggota Tanwir Muhammadiyah 2 periode Th. 1995 – 2005.
  • Pembantu Rektor II Universitas Muhammadiyah Makassar Th. 1992 – 1996.
  • Direktur Akademi Kebidanan Muhammadiyah Makassar Th. 2000 – 2010.
  • Penasehat Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan Th. 2005 – 2010.
  • Wakil Ketua Konsorsium RS. Muhammadiyah se Indonesia Th. 2006 – 2010.
  • Anggota Lajnah Tarjih Muhammadiyah Sulawesi Selatan Th. 1974 – 2010.
  • Anggota Korps Mubaligh Muhammadiyah Th. 1968 – Insya Allah akhir hayat.

Pada tiap masa jabatan tersebut menjadi penggerak beberapa kegiatan Persyarikatan antara lain :

  1. Sebagai PRM ONTAMAS, melaksanakan program “Jamaah dan Dakwah Jamaah”.
  2. Sebagai PCM Mamajang, merenovasi Masjid Nurud Da’wah, meningkatkan/mengembangkan AUM Pendidikan dan Kesehatan, melanjutkan kegiatan Tadarusan sepeninggal Almarhum DR, S.Madjidi
  3. Sebagai Ketua Majelis Pembina Kesehatan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sul.Sel, berhasil membuka 6 (enam) Akademi Kesehatan Muhammadiyah yaitu Akademi Kesehatan Lingkungan (AKL), Akademi Keperawatan (AKPER), Akademi Tehnik Radiodiagnosis dan Terapi (ATRO), Akademi Tehnik Elektomedik (ATEM), Konversi Sekolah Perawat Kesehatan (SPK) menjadi Akademi Kebidanan (AKBID), dan Akademi Analis Kesehatan (ANAKES). Membangun gedung dan fasilitas perkuliahan terpadu dari semua Akademi tersebut. Dibidang pelayanan kesehatan berhasil mengembangkan Rumah Bersalin di Kabupaten Tana Toraja, Palopo, Bulukumba, Wajo, Jeneponto, Pangkajene Kepulauan, Pinrang, Sidrap, Bantaeng, dan tiga Rumah Sakit Bersalin di Kota Makassar.
  4. Sebagai Anggota Tanwir, Aktif mengikuti sidang-sidang yang diadakan di Bandung, Yogyakarta, Solo, Semarang, Banjarmasin, Jakartaa, Aceh, Malang, Makassar, dan Mataram.
  5. Sebagai Direktur AKBID, berhasil meraih status terakreditasi bagi AKBID Muhammadiyah Makassar. Sejak tahun 2005- 2009 menjadi Ketua Forum Kebidanan se Wilayah Kopertis IX Sulawesi.
  6. Sebagai anggota Lajnah Tarjih Sulawesi Selatan, aktif mengikuti kegiatan tarjih dan sidang-sidang tarjih tingkat Wilayah maupun Pusat dengan materi antara lain, Masalah Basmalah, Lotrei Totaliter (LOTTO), Takbir Ied, Asuransi, Taswib, Kesenian dalam Islam, Adabul Mar’a Fil Islam, Tenaga Dalam, Shalat Tasbih, Zikir dan Do’a, Do’a Istighasya, Bank, Rokok, Multi Level Marketing (MLM), Peternakan Cacing, Masbuq Dalam Shalat Jamaah.
  7. Sebagai Mubalig, telah menyusun tulisan-tulisan berupa transkrip seperti :

1). Jamban Keluarga

2). Cara Berwudu

3). Cara Mandi dan Tayamum

4). Masbuq dalam Shalat Jamaah

5). Shalat Lail

6). Ukuran Panjangnya Shalat

7). Waktu-waktu Shalat

8). Shalat Dua Hari Raya.

9). Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad Saw.

10). Hewan Sembelihan Dalam Agama Islam

11). Puasa Karena Membunuh tidak sengaja.

12). Islam dan Kesehatan

13). Pandangan Islam terhadap Immunisasi.

14). Narkoba dalam Pandangan Islam

15). Hikmat Allah.

16). Cara meningkatkan Iman.

Diantaranya ada yang dimuat dalam Majalah, Surat Kabar, dibawakan dalam seminar akademik dan disiarkan melalui Radio Republik Indonesia Studio Makassar.

Sebagai Guru dan Dosen

SEBAGAI GURU DAN DOSEN

Guru atau Dosen menurut saya adalah orang-orang yang bekerja dengan ikhlas dan dedikasi tinggi mengamalkan ilmu yang dimiliki untuk mencerdaskan generasi penerus mencapai sumber daya manusia profesional, berdayasaing dan berakhlak mulia.

Sedikit ilmu dan sedikit kemampuan yang diberikan Allah, saya melibatkan diri melaksanakan tugas guru atau dosen walaupun selaku tenaga guru honor atau dosen luar biasa, dan didukung pula oleh adanya institusi pendidikan yang membutuhkan baik negeri maupun swasta.

Tugas guru mulai saya jalani tahun ajaran 1965/1966 di Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri I Makassar, setelah memperoleh ijazah Sarjana Muda (BA) pada Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin. Membagi waktu untuk kuliah dan mengajar tidak mudah, namun harus saya jalani karena disamping mengamalkan ilmu, juga maksud lain adalah ingin mendapatkan dana untuk kebutuhan hidup dan biaya sekolah.

Saya dipercayakan mata ajar Biologi di kelas I, Ilmu Ukur Ruang di kelas I dan II, serta Ilmu Pesawat atau Ilmu Gaya di kelas III. Tugas ini saya laksanakan sampai tahun ajaran 1975/1976. Sekalipun sebagai guru honor, namun Kepala SMA bapak Drs. Edi Waworuntu yang kemudian diganti oleh Makutaknang Daeng Nuntung cukup memberi apresiasi mengenai disiplin mengajar dan metode yang digunakan. Pada kurun waktu ini saya dipercayakan juga mengajarkan Ilmu Fisika pada beberapa angkatan Kursus Pendidikan Guru Sekolah Lanjutan Pertama (KPGSLP) di Makassar dan Madrazah Tsanawiyah Muhammadiyah Cabang Mamajang Makassar.

Pada tahun 1975 – 1978 saya memanfaatkan semua waktu untuk penyelesaian study dokter, dan Alhamdulillah tanggal 15 Juli 1978 saya mengucapkan sumpah sebagai dokter.

Mulai tahun ajaran 1978 / 1979 kembali menjadi guru Sekolah Perawat Kesehatan (SPK) Depkes dan SPK Muhammadiyah Makassar sampai tahun ajaran 1998 / 1999.

Sebagai Dosen, tahun 1990 – 2010, dijalani pada Fakultas Agama Universitas Muhammadiyah Makassar, Akademi Kesehatan Lingkungan (AKL), Akademi Tehnik Radiodiagnostik dan Terapi (ATRO), Akademi Tehnik Elektro Medik (ATEM), Akademi Kebidanan (AKBID), dan Akademi Analis Kesehatan (ANAKES) milik Muhammadiyah di Makassar, yang didirikan oleh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulawesi Selatan atas inisiatif saya selaku Ketua Majelis Pembina Kesehatan PWM Sulawesi Selatan 2 periode.  

Tahun 1999 – 2010 saya menjadi Direktur Akademi Kebidanan (AKBID) Muhammadiyah Makassar. Sebagai Dosen tercatat secara Nasional dengan Nomor Induk Dosen Nasional (NIDN): 09-0308-4401.

Mulai tahun 2011 menjadi Dosen AKBID Bunda Kotamobagu dan AKPER Totabuan Kotamobagu.

Sebagai Pegawai Negeri Sipil (Dokter)

SEBAGAI PEGAWAI NEGERI SIPIL (DOKTER)

Karier Pegawai Negeri Sipil NIP. 140091245 Gol. III b mulai dikembangkan dari Puskesmas Non Inpres Polombangkeng Utara Takalar, dan otomatis menjadi Anggota KORPRI.

Puskesmas yang pada tahun-tahun sebelumnya hanya dikunjungi pasien kurang dari 1000 kasus pertahun, pada tahun 1979 naik menjadi 15.000 pertahun. Fasilitas dan jangkauan pelayanan ditingkatkan, kunjungan ke desa-desa dilaksanakan tiap pekan sehingga dalam waktu singkat fungsi Puskesmas dapat dipahami oleh masyarakat yang sekaligus memanfaatkanya.

Belum cukup satu tahun saya diusulkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Takalar untuk mewakili Takalar mengikuti penilaian Dokter Teladan.

Tahun 1980 pindah lagi ke Puskesmas Batua di Kota Makassar sampai tahun 1983. Selama tiga tahun Puskesmas ini menjadi tempat studi banding bagi setiap peserta pelatihan Puskesmas se Indonesia Timur yang dilaksanakan di Makassar. Mulai tahun 1982 saya selain kepala Puskesmas juga menjadi anggota Tim Pelatih Manajemen Kesehatan di Indonesia Timur. Pada tahun 1983 dipromosikan menjadi Direktur Rumah Sakit Daerah Kabupaten Takalar sampai tahun 1988. Selanjutnya pindah lagi ke Rumah Sakit Kelas B di Makassar sebagai Kepala Bidang Penunjang sampai tahun 1990, lalu dipromosikan menjadi Wakil Direktur Penunjang Medis sampai tahun 1994. .

Rumah Sakit Dadi (Kelas B) dikonversi menjadi Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. Wahidin Sudirohusodo (Kelas A) sebagai Rumah Sakit Pendidikan dan Rujukan terbesar di Indonesia Timur.

Sebagai PNS saya tetap menempati eselon III A pada jabatan Kepala Bidang Pelayanan Medis sampai pensiun tanggal 1 Agustus 2000 pada pangkat/golongan IV C.

Disamping Kepala Bidang, saya mengetuai Tim Akreditasi Rumah Sakit, Satuan Pengawas Interen (SPI), Panitia Penilai Kredit Poin Tenaga Kesehatan di Rumah Sakit, dan tahun 1994 – 1998 menjadi

Dosen Luar Biasa Fakultas Kedokteran UNHAS untuk mata kuliah Administerasi Rumah Sakit bagi Dokter Muda (Drs.Med) dan Residen.

Sebagai pejabat struktural di Rumah Sakit, juga merangkap Pimpinan Proyek Pembangunan Rumah Sakit tahun 1998 – 2000.

Pengawai Negeri Sipil tidak dilewati tanpa riak gelombang serta pasang surut akibat perkembangan politik dibawah pemerintahan Golongan Karya (GOLKAR). Karena tidak memiliki Nomor Pengenal Anggota Golkar (NPAG) sering mendapat intimidasi dengan ancaman dimutasi ke Daerah Terpencil. Pernah didaftar untuk melanjutkan pendidikan ke Magister Hospital Administration (MHA) di Pilipina, tetapi kemudian dibatalkan karena bukan Anggota Golkar. Lain lagi ketika Baperjakat Kanwil Departemen Kesehatan Sulawesi Selatan akan mencari pejabat untuk Wakil Direktur RSUP (Kelas A) DR. Wahidin Sudirohusodo juga digagalkan karena diketahui tidak hormat bendera kalau mengikuti upacara.

Sebaliknya semua Jabatan dan Tugas yang diberikan/diamanahkan oleh atasan selalu dilaksanakan dengan tulus dan rasa tanggung-jawab penuh, serta mengacu pada prinsip-prinsip manajemen.

Wajar jika Presiden Republik Indonesia pada bulan Desember 1999 menganugerahkan Piagam Tanda Kehomatan Satyalancana Karya Satya 20 Tahun.

Profesi dokter secara fungsional dijalankan pada Puskesmas dan Rumah Sakit tempat bertugas selama PNS dan sebagai Dokter Praktik Swasta di Rumah Jl. Mawas V No. 8 Makassar sejak tahun 1978 sampai tahun 2010.

Sebagai Dokter Umum selalu aktif mengikuti kemajuan dan perkembangan ilmu kedokteran dengan berlangganan majalah-majalah kesehatan serta mengikuti seminar-seminar kesehatan baik ditingkat daerah maupun Nasional.

Selama Pegawai Negeri, tidak terhitung berapa kali mengikuti Pelatihan, Kursus, Lokakarya sehubungan dengan tugas pokok dan fungsi (TUPOKSI), penjenjangan, kepegawaian dan administrasi.

Musim Haji tahun 1990 menjadi Tim Kesehatan Haji Indonesia (TKHI) kloter 1 embarkasi Makassar, dimana pada waktu itu terjadi peristiwa terowongan Mina yang mengakibatkan korban kira-kira 700 orang jamaah haji Indonesia meninggal. Alhamdulillah, atas pertolongan Allah, saya selamat dari musibah tersebut sekalipun juga terjebak dalam terowongan.

Masa Di Perguruan Tinggi

MASA DI PERGURUAN TINGGI

Setelah lulus SMA Negeri Gorontalo, sebagai salah satu juara saya ditawari beasiswa ke Akademi Pekerjaan Umum dan Tenaga (ADPUT) di Bandung. Selain itu keluarga dan Pemerintah Daerah Bolaang Mongondow menghendaki saya meneruskan pendidikan ke Fakultas Kedokteran UNHAS dengan Beasiswa Pemerintah Daerah.

Tawaran ini menjadi pilihan, dan berangkatlah saya ke Makassar dimana waktu itu kakak sepupu Drs. Abdullah Mokoginta menjadi Staf pada kantor Komando Antar Daerah Indonesia Timur (KOANDAIT) di bawah pimpinan Soeharto yang kemudian menjadi Presiden selama 32 tahun.

Karena tes masuk Fakultas Kedokteran UNHAS telah selesai, maka saya diterima sebagai Mahasiswa Pendengar dengan ketentuan akan diuji setelah tiga bulan kemudian.

Alhamdulillah setelah tiga bulan saya berhasil dicatat sebagai Mahasiswa dengan Nomor Stambuk 520 pada tahun Akademik 1962/1963. Bersama 120 mahasiswa tingkat I lainnya saya mengikuti kuliah dengan bersemangat.

Akhir tahun Akademik kami menghadapi ujian tulis dan praktik yang cukup berat, dengan hasil yang sangat memuaskan karena dari 120 mahasiswa hanya saya dan seorang teman yang berhasil lulus Utama, dan sisanya masih harus mengulang sebulan kemudian.

Tahun akademik 1962/1963 s/d 1964/1065 saya lewati dengan lancar dan sukses menyelesaikan tingkat Bakaloreat (Sarjana Muda). Selama tiga tahun itu saya dari rumah kost di Jl. Onta Makassar sampai ke kampus Fakultas Kedokteran yang berjarak kira-kira 6 km harus berjalan kaki karena tidak punya sepeda.

Tahun akademik 1965/1966 seluruh proses pendidikan terpengaruh oleh Gerakan 30 September (G30S).

Tahun Akademik berubah menjadi tahunan dari Januari s/d Desember dan kembali lagi ke periode September – Agustus pada tahun akademik 1974/1975 dst.

Tahun 1966 perkuliahan praktis tidak berjalan. Pada tingkat IV ini saya tertahan beberapa tahun, sampai berhasil memperoleh gelar Drs.Med. (Dokter Muda) pada tahun akademik 1974/1975.

Selama pendidikan dokter kurikulum tidak mengenal Sistim Kredit Semester (SKS), sehingga tiap tahun bila masih ada mata kuliah yang belum dilulusi maka tahun berikut semua mata kuliah harus diulangi sekalipun pada tahun sebelumnya sudah dilulusi.

Selama masa kritis ini beasiswa saya diberhentikan oleh Bupati Bolaang Mongondow waktu itu Oe.N. Mokoagow, sehingga saya harus mencari uang untuk membiayai pendidikan. Masa kritis ini saya manfaatkan juga menjadi guru tidak tetap pada SMA Negeri 1 Makassar untuk mata ajar Biologi, Ilmu Ukur Ruang, dan Ilmu Pesawat, dan menjadi guru privat les pada putera-putera pejabat di Makassar. Alhamdulillah biaya pendidikan dapat diatasi, apalagi pada waktu itu saya sudah berkeluarga sehingga peran sang Isteri yang juga seorang guru di Sekolah Menengah Atas, sangat menentukan keberhasilan saya menghadapi kemelut biaya sekolah.

Tahun akademik 1975/1976 saya berhenti menjadi guru tidak tetap dan memusatkan perhatian pada praktik dokter muda pada semua Rumah Sakit di Makassar. Akhirnya tahun 1978 berhasil menyelesaikan pendidikan dokter.

Segera setelah itu saya diusul menjadi Pegawai Negeri oleh Kepala Kantor Wilayah Departemen Kesehatan Sulawesi Utara dan Sulawesi Selatan, namun oleh Menteri Kesehatan saya ditetapkan mengisi formasi dokter Puskesmas di Sulawesi Selatan. Pada tanggal 13 November 1978 saya resmi menjadi Kepala Puskesmas Polombangkeng Utara Kabupaten Takalar.